Taktik adu bomba mungkin adalah taktik yang paling jitu untuk menjajah bangsa lain. Taktik ini tidak membutuhkan biaya banyak, namun amat efektif untuk melemahkan lawan. Ia menjadi taktik utama dari berbagai penguasa mutlak di sepanjang sejarah manusia untuk menjajah dan menaklukan. Tingkat keberhasilannya pun nyaris sempurna.
Taktik adu domba menggunakan logika adu domba. Logika adu domba dimulai dengan menyebarkan sebuah berita tertentu yang menciptakan perpecahan dan kecurigaan di dalam kelompok tertentu. Berita ini begitu sensasional, dan biasanya amat sulit untuk diperiksa kebenarannya. Banyak orang resah atas berita ini. Keresahan serta kecurigaan tersebut lalu menciptakan perpecahan di dalam kelompok, yang akhirnya melemahkan persatuan serta kesatuan kelompok tersebut.
Biasanya, adan pihak-pihak tertentu di belakang layar yang memperoleh keuntungan dari perpecahan yang ada. Pihak-pihak ini biasanya adalah pihak asing yang memiliki kepentingan tertentu, terutama kepentingan politik dan ekonomi. Mereka bertanggung jawab atas berita yang tersebar dan meresahkan masyarakat. Mereka dikenal sebagai provokator atau aktor di belakang layar yang memicu perpecahan.
Belanda menggunakan taktik ini, ketika ia hendak menjajah Indonesia lebih dari 300 tahun yang lalu. Beragam kerajaan yang ada diadu domba, sehingga mereka saling curiga dan bahkan berperang satu sama lain. Akibatnya, mereka menjadi lemah, dan dengan mudah dikalahkan oleh Belanda. Belanda lalu akhirnya menjadi penguasa politik dan ekonomi di berbagai pulau di Indonesia.
Di balik kecurigaan dan perpecahan yang terjadi, ada pihak dari luar yang mengajak salah satu dari pihak yang terpecah tersebut untuk bekerja sama. Mereka lalu membentuk persekutuan terselubung. Namun, yang kerap terjadi adalah persekutuan tersebut lalu hancur, karena pihak dari luar mengingkari janji mereka.
Perpecahan dan kecurigaan yang terjadi biasanya membuat kelompok masyarakat tersebut melupakan hal-hal yang penting. Mereka menghabiskan sumber daya mereka untuk berperang satu sama lain, sehingga kekuatan ekonomi dan budaya mereka pun melemah. Di dalam keadaan itu, pihak dari luar bisa dengan mudah datang dan menghancurkan mereka.
Sikap Kritis Kita
Namun, taktik dan logika adu domba bisa dilawan. Kita perlu peka terhadap segala bentuk upaya adu domba yang terjadi di masyarakat kita. Kita perlu membangun sikap kritis, sehingga kita tidak mudah dipecah oleh beragam isu dan berita bohong. Sikap kritis berarti kita berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara rasional tentang berbagai berita yang kita dengar, terutama berita-berita yang menimbulkan kecurigaan dan perpecahan.
Di sisi lain, kita juga perlu peka dengan berbagai hubungan kekuasaan yang ada. Kita perlu bertanya, siapa yang diuntungkan dari kecurigaan dan perpecahan yang terjadi? Jika kita menelan mentah-mentah berbagai berita yang ada, terutama berita-berita yang disebarkan oleh media-media besar dunia, maka kita akan mudah diadu domba. Ketika taktik adu domba sudah menyusupi kelompok kita, maka peluang untuk hancur, akibat penaklukkan pihak luar, akan menjadi semakin besar.
Belakangan ini, kelompok Muslim di berbagai belahan dunia menjadi target dari pemberitaan terkait dengan terorisme. Banyak komunitas Muslim yang tak bersalah lalu mengalami diskriminasi di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi sampai dengan pendidikan. Kita jelas perlu bersikap kritis terhadap ini. Kita juga perlu peka pada hubungan-hubungan kekuasaan yang terjadi di belakang pemberitaan ini, terutama soal pengalihan isu serta tentang pihak-pihak yang diuntungkan dari perpecahan yang ada.
Kita juga jelas perlu belajar dari sejarah kita sendiri. Nusantara Indonesia takluk di bawah berbagai penjajahan negara-negara Eropa selama ratusan tahun, akibat taktik adu domba ini. Kita tidak boleh mengulang kesalahan yang sama. Hancurnya bangsa Indonesia dan hilangnya nyawa jutaan orang, seperti yang terjadi di masa silam, jika kita jatuh kembali pada lubang yang sama itu merupakan harga yang terlalu mahal untuk dibayar.
0 komentar:
Posting Komentar